Jumat, 01 Juli 2011

KETIDAKSEIMBANGAN EKOSISTEM

KETIDAKSEIMBANGAN EKOSISTEM
Serangga dan Masa Depan Manusia
KOMPAS.com - Untuk mencapai kondisi nyaman bagi manusia, bumi butuh proses miliaran tahun. Namun, zona nyaman itu kini bergeser. Suhu bumi meningkat seiring kenaikan konsentrasi karbon di atmosfer, dampak aktivitas manusia modern. Dan, organisme yang paling cocok dengan bumi yang berubah ini ternyata dari keluarga serangga, bukan manusia.
Memang tak semua serangga sanggup bertahan terhadap perubahan iklim. ”Kebanyakan yang terancam adalah serangga predator yang berguna untuk manusia. Selain itu, juga serangga yang makannya spesifik, seperti lebah,” kata Warsito, ahli serangga dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Sebaliknya, serangga kosmopolit—yang kebanyakan pembawa penyakit, baik terhadap tanaman maupun manusia—akan mengalami ledakan populasi.
Penelitian Ellen Currano dari Pennsylvania State University dalam jurnal Ecological Society of America edisi November 2010 menemukan, kenaikan suhu global masa lalu memicu ledakan populasi dan keragaman serangga pemakan daun. Ellen meneliti 9.071 fosil daun di sembilan lokasi basin Bighorn, Wyoming, Amerika Serikat. Fosil itu terbentuk 52,7 juta-59 juta tahun lalu saat konsentrasi karbon dioksida (CO) di bumi meningkat.
”Saat suhu bumi naik, kira- kira 60 juta tahun lalu, serangga tropis dan subtropis bermigrasi jauh ke utara. Sangat mungkin pemanasan global kini memicu lagi ledakan populasi dan sebaran serangga,” katanya.
Kenapa ledakan serangga terjadi seiring kenaikan suhu? Warsito menjelaskan, pemanasan global karena penambahan konsentrasi karbon menyebabkan serangga pemakan tanaman kian lapar. Peningkatan konsentrasi CO menurunkan perbandingan unsur nitrogen dalam tumbuhan. Padahal, nitrogen mutlak untuk hidup serangga. Kompensasinya, serangga akan memakan biomassa tumbuhan yang lebih banyak.
Namun, karena siklus hidup serangga memendek, kebutuhan makanan itu tetap tak terpenuhi. Ukuran serangga pun mengecil daripada di suhu dingin.
Penelitian Warsito tentang lalat pengorok daun Liriomyza huidobrensis menunjukkan, serangga jenis ini yang ada di dataran rendah dan bersuhu lebih panas berukuran lebih kecil dibandingkan sejenisnya di dataran tinggi. Ukuran mengecil, tetapi sebarannya meluas. Liriomyza huidobrensis yang baru masuk Indonesia tahun 1990-an dan hanya ditemukan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, menyebar cepat ke sejumlah daerah.
Lebih adaptif
Di tengah perbincangan meningkatnya suhu bumi dan ancaman perubahan iklim bagi banyak spesies, sejauh ini serangga yang paling siap beradaptasi. Rekam jejak keunggulan serangga jauh lebih tua dari spesies manusia.
Pendeknya, siklus hidup serangga membuatnya cepat mewariskan genetika paling sesuai kondisi iklim kontemporer pada keturunannya. Kegagalan pemberantasan hama serangga dengan pestisida menjadi contoh kemampuan serangga menjadi kebal terhadap perubahan sekitar, bahkan terhadap racun.
Tanda-tanda invasi serangga hama terhadap sumber pangan, dilaporkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), telah mengancam ketahanan pangan dunia. Di Indonesia, beberapa peneliti memperingatkan itu.
Direktur Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor Suryo Wiyono menunjukkan, perubahan iklim memicu ledakan hama dan penyakit tanaman. Tiga tahun terakhir, ia menemukan peningkatan tajam penyakit kresek padi karena bakteri Xanthomonas oryzae pv Oryzae, virus gemini pada cabai dan tomat yang dibawa, serta hama thrips cabai.
Suryo juga menemukan penyebaran Xanthomonas hingga wilayah pegunungan. Hampir semua penyakit itu dibawa serangga vektor, misalnya virus gemini yang dibawa kutu kebul.
Andi Trisyono, Ketua II Komisi Perlindungan Tanaman Nasional yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, menemukan fakta, serangan wereng coklat terhadap sentra tanaman padi meningkat pesat. Itu diyakininya terkait perubahan iklim.
Andi memperkirakan serangan ini akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Kondisi itu diperparah kekeliruan penanganan berupa penyemprotan pestisida secara berlebih, yang justru membuat serangga predator wereng coklat mati. Di sisi lain, wereng coklatnya kian kebal pestisida.
Fenomena nyamuk
Selain bertambahnya intensitas serangan dan wilayah sebaran terhadap tanaman sumber bahan pangan manusia, penyakit menular yang dibawa serangga, seperti malaria dan demam berdarah, juga meluas.
”Hingga sepuluh tahun lalu, nyamuk tidak ditemukan di daerah tinggi, seperti Puncak, Jabar. Namun, kini di Puncak sudah banyak nyamuk, bahkan sudah ditemui kasus demam berdarah,” kata Warsito.
Pertanyaannya, apakah penyebaran nyamuk ke dataran tinggi itu hanya karena kenaikan suhu? Atau mungkin juga dipicu perubahan perilaku dan morfologi nyamuk itu sendiri? Pertanyaan itu sulit dijawab.
Menurut Warsito, ”Hingga saat ini kita belum memiliki penelitian yang serius soal ini. Penelitian soal serangga masih sangat minim, terutama kaitannya dengan perubahan iklim.”
Namun, sekali lagi, penelitian Warsito terhadap Liriomyza huidobrensis menjelaskan, serangga telah beradaptasi dengan kenaikan suhu melalui pengecilan tubuh sehingga mampu terbang lebih jauh. ”Serangga, termasuk nyamuk, sudah mengubah perilakunya dan juga morfologinya. Namun, cara kita meng-atasinya belum berubah,” katanya.
Banyak negara, ujarnya, kini intensif meneliti serangga karena khawatir dengan ancaman ledakan populasi dan sebarannya. Negara-negara subtropis khawatir terhadap migrasi serangga dari daerah tropis, khususnya nyamuk pembawa malaria.
Memakan serangga
Kabar buruknya, sejauh ini belum ada solusi praktis untuk masalah ledakan serangga. Negosiasi global untuk menurunkan emisi karbon di muka bumi seperti menemukan jalan buntu dan disikapi sebagaibusiness as usual. Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang ketiga memperkirakan, suhu bumi akan terus naik. Tahun 2100, penambahannya diperkirakan hingga 5,8 derajat celsius dibandingkan dengan tahun 2000.
Jika sudah begitu, saran Profesor Arnold van Huis, entomologis dari Wageningen University di Belanda, agar manusia mulai membiasakan diri memakan serangga sepertinya masuk akal. Salah seorang konsultan ahli FAO itu menyarankan agar manusia mulai mengubah perilaku dari mengonsumsi daging sapi ke serangga.
”Saat ini terjadi krisis daging,” ujarnya. ”Populasi manusia di dunia tumbuh dari 6 miliar (jiwa) pada saat ini menjadi 9 miliar (jiwa) pada tahun 2050 dan kita tahu manusia akan makan lebih banyak daging,” katanya sebagaimana dilaporkan The Guardian.
Padahal, masa depan bumi ditandai dengan ledakan serangga.
Di Indonesia, kebiasaan sebagian masyarakat Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mengonsumsi belalang atau masyarakat Papua dan Mentawai, Sumatera Barat, yang mengonsumsi larva serangga di batang sagu barangkali akan menjadi perilaku yang lebih umum pada masa mendatang.

Analisis Tentang Ketidakseimbangan Ekosistem
  • Penyebab Ketidakseimbangan Ekosistem

Penyebab ketidakseimbangan ekosistem pada artikel diatas ialah karena pemanasan global. Pemanasan global mengakibatkan suhu bumi meningkat dan peningkatan suhu bumi berakibat pada ledakan populasi serangga.

Pemanasan Global paling utama diakibatkan oleh efek rumah kaca. Aktivitas manusia modern menjadi penyebab utama dari efek rumah kaca. Misalnya saja aktivitas manusia seperti kegiatan industri, menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil, penggunaan kulkas dan AC, dan lain-lain. Aktivitas manusia ini akan mengeluarkan begitu banyak gas penyebab efek rumah kaca seperti karbon dioksida, CFC, karbon monoksida, dll.

Selain karena aktivitas manusia, pemanasan global juga diakibatkan oleh faktor alam. Salah satu faktor alam yang menjadi penyebab pemanasan global yakni Variasi Matahari. Variasi matahari ialah perubahan jumlah energi radiasi yang dipancarkan matahari.

  • Dampak dari Ketidakseimbangan Ekosistem

Ketidakseimbangan ekosistem pada artikel di atas mengakibatkan ledakan populasi serangga. Hal ini terjadi karena pemanasan global meningkatkan konsentrasi gas CO. Peningkatan konsentrasi gas CO menurunkan perbandingan unsur nitrogen yang sangat dibutuhkan oleh serangga.

Akibat menurunnya perbandingan unsur nitrogen ini, serangga pun harus memakan biomassa tumbuhan yang lebih banyak. Padahal tumbuhan yang dimakan jumlahnya tetap konstan. Serangga pun akhirnya memakan tumbuhan lebih banyak lagi hingga hewan-hewan herbivora lain seperti sapi atau kambing akan kehilangan sumber makanan utama mereka.

Hewan-hewan herbivora sebagai konsumen 1 pun akan merasa kelaparan dan energi dari makanan yang mereka makan pun akan berkurang. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah populasi hewan-hewan herbivora akibat mati kelaparan. Hal ini akan berakibat sangat fatal bagi keseluruhan ekosistem.

Konsumen 2 yakni hewan karnivora yang nantinya akan memakan konsumen 1 akan kekurangan energi bahkan kekurangan sumber makanan utama mereka. Hal ini pada akhirnya akan mengakibatkan kematian makhluk hidup, termasuk manusia. Karena jika tumbuhan sebagai produsen utama dalam rantai makanan sudah berkurang, maka rantai makanan pun akan tidak seimbang.

Selain itu, dampak lainnya dari meledaknya populasi serangga adalah banyaknya penyakit yang ditimbulkan oleh para serangga. Sebut saja serangga nyamuk yang membawa penyakit malaria, atau demam berdarah. Juga serangga lainnya yang umumnya adalah perantara dari berbagai bibit penyakit. Seperti lalat, dan kecoa.

  • Menanggulangi Dampak dari Ketidakseimbangan Ekosistem

Cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi ketidakseimbangan ekosistem antara lain dengan mengurangi pemanasan global yang merusak komponen biotik serta abiotik bumi. Selain itu, pengurangan penggunaan pestisida juga akan sangat berguna. Hal ini karena pestisida akan merusak berbagai komponen abiotik dalam ekosistem seperti tanah.

Penggunaan pestisida secara berlebihan juga akan membunuh serangga predator yang memakan hama tanaman, penggunaan pestisida yang adalah bahan kimia juga tidak baik terhadap kesehatan manusia. Selain itu serangga juga sudah kian kebal terhadap pestisida.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar