Jumat, 01 Juli 2011

Manusia Purba

MANUSIA PURBA

Siapakah nenek moyang kita? Apakah nenek moyang kita iyalah makluk ciptaan Tuhan yang berjuluk Adam-Hawa yang berwujud insani yang sudah sedemikian sempurna itu? Ataukah gambaran dari fosil fosil hominid purba yang selalu terkait dalam kerangka evolusi?

Ketika penelitian biogenetika menyebutkan bahwa manusia modern berasal dari satu orang wanita (hawa mitokondria) yang hidup di Afrika Timur pda 2.000.000 tahun yang lalu maka ia dan keturunan nya pun tetap merupakan sebuah produk evolusi. Dan didalam evolusi selalu ada spesies yang punah dan bertahan.


  • Anak Tertua dan Sang Raksasa
Homo erectus arkaik dan Meganthropus

Sekitar 1,5 juta hingga 1 juta tahun yang lalu hidup dua jenis manusia purba di pulau Jawa. Jenis pertama memiliki tinggi badan sekitar 165 cm, posturnya tegap. Hidungnya lebar, belum mempunyai dagu tapi berahang kuat. Tulang tengkoraknya sangat masif, dengan tempurung rendah serta tonjolan belakang kelapa yang masih nyata.

Tonjolan keningnya pun masih tebal, melintang dari pelipis kiri ke pelipis kanan. Mereka tinggal di sekitar tepian sungai Bengawan Solo, di Sangiran,Jawa Tengah. Tetapi di waktu yang sama hidup pula kelompok lain dari jenis yang sama, di Perning, Mojokerto, Jawa Timur, diantara nya adalah seorang anak berumur 5-7 tahun.

Jenis lainnya adalah individu yang memiliki rahang bawah (mandibula) berukuran sangat besar. Badannya pun sangat besar, dan lebih tegap dari jenis yang pertama. Individu ini memang seperti raksasa. Ia pun di beri nama Meganthropus palaeojavanicus, yang berarti raksasa purba dari Jawa.

Raksasa ini dulu juga tinggal di Saringan. Dari bentuk fisiknya jelas dua jenis manusia purba ini berbeda, cara hidup mereka juga berbeda. Bila raksasa menyukai tumbuhan-tumbuhan, buah buahan dan umbi umbian maka si anak Perning dan kelompoknya agaknya lebih menyukai hewan-hewan buruan untuk makanan mereka.

Sang raksasa mungkin menggunakan ranting kayu untuk mengais umbi umbian, atau batang bambu untuk menjangkau buah buahan. Sementara kelompok lainnya membuat alat pengiris dari segumpal batu kalsedon dari sungai, berupa alat batu pipih berdiameter 2-4 cm. alat alat batu yang paling tua ini, berusia sekitar 1,2 juta tahun yang lalu, ditemukan di daerah Dayu, bagian selatan Kubah Sangiran.


  • Berjalan Tegak dan Berburu Hewan
Homo erectus Tipik

Masih di Sangiran, dalam rentan waktu 900 ribu sampai 400 ribu tahun yang lalu, atau di sekitar masa Plestosen Tengah, pernah hidup sekelompok manusia purba lain. Di bandingkan dengan pendahulunya yang arkaik, mereka memiliki postur tubuh yang lebih ramping. Tempurung kepala tidak terlalu menjorok ke belakang.

Tonjolan tulang kening sudah mulai berkurang dengan dahi agak sedikit meninggi. Pipi kiri dan kanan tidak lagi maju ke muka secara berlebihan. Pada kelompok manusia purba yang tergolong Homo erectus tipik atau klasik ini, pemungilan tampaknya terjadi pada rahang dan gigi–giginya.

Atribut–atribut itu merupakan cirri dasar manusia dari jenis Homo erectus, spesies manusia yang telah berjalan tegak. Perkembangan otak dan ketegakan postur, adalah dua atribut penting dalam evolusi manusia. Kehidupan tersedia di alam, baik itu tumbuh tumbuhan maupun hewan hewan yang ada di sekitarnya.

Mereka berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka hidup berpindah pindah untuk mengikuti pengembaraan hewan hewan buruan, atau untuk mencari sumber makana di tempat lain. Dalam kesehariannya, mereka sudah mulai dapat membuat alat sederhana dari bebatuan, seperti kapak perimbas (chopper), kapak penepak (chopping tool), atau penyerpih (flake).
Mereka tampaknya juga sudah mulai mengembangkan tata masyarakat yang sederhana. Kaum laki laki bekerja sama memburu hewan; para wanitanya mengumpulkan tumbuhan atau buah buahan. Berdasarkan bentuk fisiknya serta tingkat kemampuan hidupnya yang sedikit lebih maju, Homo erectus tipik ini mungkin merupakan penerus Homo erectus arkaik dalam sejarah evolusi manusia.

 Dan bersama pendahulunya itu, mungkin pula mereka adalah keturunan dari kelompok Homo erectus awal yang pertama kali keluar di Afrika pada 1,8 juta tahun yang lalu, kemudian menyebar , menjelajahi berbagai tempat lalu sampai di pulau Jawa. Pada saat itu migrasi hominid sangat mungkin terjadi, karena terbentuknya jembatan jembatan darat selama proses glasiasi, telah menghubungkan beberapa wilayah di muka bumi.


  • Berkembang Di Lingkungan Yang Ideal
Homo erectus Progesi

Pulau Jawa di akhir masa Plestosen Tengah, sekitar 300 ribu sampai 200 ribu tahun yang lalu, tampak nya masih merupakan hunian pilihan bagi manusia purba. Pada masa itu perkembangan geologis sedang mencapai puncaknya, tanah-tanah menjadi subur berbagai jenis tumbuhan pun tumbuh berkembang.

Sungai sungai selalu mengalir melalui hutan-hutan terbuka, tempat berkumpulnya hewan hewan besar atau kecil. Di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo, di sekitar Ngawi, Ngandong dan Sambungmacan, sekelompok manusia purba memilih untuk tinggal. Lingkungan alam didaerah itu memang berlimpah ruah dengan sumber-sumber makanan.

Tampilan fisik manusia purba didaerah ini juga jauh lebih progresif dari pendahulunya di Sangiran. Sosoknya semakin tegap dengan tinggi badannya antara 165– 180 cm. Tengkoraknya tebal dan masif dengan atap tengkorak lebih bulat yang menunjukan bahwa volume otaknya semakin membesar (rata rata 1.100 cm).
Tulang keningnya memang masih menonjol, tapi sudah jauh berkurang, mereka mempunyai akar hidung yang lebar dan rongga matanya sangat panjang. Kelompok ini tinggal disekitar padang rumput subur yang tidak jauh dari sungai dan hewan-hewan buruan mudah didapat di daerah seperti itu.

Lingkungan yang ideal mungkin menjadi factor kemajuan budayanya. Sumber makanan berlimpah membuat mereka lebih kreatif untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Mereka sudah pandai membuat berbagai jenis alat dari batu atau dari tulang untuk keperluan hidup sehari hari. Aturan hidup berkelompok pun sudah di kenal, terutama untuk perlindungan dan kerja sama dalam perburuan.

Dalam pelaksanaan organisasinya, mungkin mereka sudah dapat berkomunikasi, walaupun dalam bahasa isyarat. Dari ciri fisiknya yang hampir mendekati manusia sekarang, Homo erectus progresif ini dianggap merupakan perkembangan evolusi dari jenis Homo erectus tipik atau keturunan terakhir dari genus Homo awal yang keluar dari Afrika.

Namun kelompok yang berasal dari ngawi, Ngandong, dan sambung macan ini mungkin mewakili jenis Homo erectus yang berada dalam garis kepunahan. Evolusi manusia memang selalu terbuka dengan berbagai kemungkinan.

  • Sistem Mata Pencaharian Manusia Purba
1. Masa Berburu dan Meramu
Laki-laki berburu sedang perempuan mencari tumbuhan dan hewan kecil. Upaya yang dilakukan manusia purba: Menciptakan alat-alat batu & tulang, Berkelompok & berpindah dekat sumber air, dan menggunakan api.

2. Masa berburu tingkat lanjut
Hidup semi sendenter, Mengawetkan daging dan kulit, dan Bercocok tanam sistem Huma (tebang & bakar)

3. Masa Bercocok Tanam
Berladang secara sederhana, Mengenal jenis tanaman, Pengetahuan bertani  berkembang, dan Menjinakkan hewan : anjing, babi ayam, kuda, anjing, babi ayam, kuda, sapi dan kerbau sapi dan kerbau.

4. Masa Bercocok Tanam Tingkat Lanjut
Mampu melebur & membuat alat logam, Mulai berdagang antar pulau (Barter), Pertanian semakin maju, Penunjukan pemimpin (Primus Interpares, berdasarkan Usia, kesaktian, kebijaksanaan), Pertukangan berkembang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar